Isi Artikel Utama

Abstrak

Artikel ini membahas maraknya fenomena gangguan kesehatan mental dan tindakan bunuh diri (mentuyo) di Toraja, yang kerap diperparah oleh tekanan kultural modernitas serta stigma teologis yang menghakimi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan untuk mengumpulkan dan menganalisis data sosiologis serta literatur terkait. Pisau analisis yang digunakan didasarkan pada konsep teologi misi David Bosch mengenai karakter gereja yang misional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja di Toraja dipanggil untuk melakukan rekonstruksi paradigma pelayanan dengan menjadikan isu kesehatan mental sebagai locus misional yang baru. Gereja di Toraja harus bertransformasi menjadi healing community (komunitas penyembuh) yang ramah bagi jiwa yang rapuh. Hal ini dicapai melalui dekristalisasi stigma, integrasi kearifan lokal yang menopang, serta penyediaan ruang aman (safe space) pastoral yang inklusif dan holistik demi menghadirkan syalom Allah secara nyata.

Kata Kunci

Kesehatan Mental Misional Gereja di Toraja Komunitas Penyembuh

Rincian Artikel

Cara Mengutip
Tandiallo, E. L., Barrung, R., & Arruan, N. D. . (2026). Menjadi Komunitas Ramah untuk Jiwa yang Rapuh: Kesehatan Mental sebagai Locus Misional Gereja di Toraja. Jurnal Bajidakka, 1(`02), 103–112. Diambil dari https://jurnal.sttintim.id/index.php/bj/article/view/13